Novi Kurnia, PhD.
Departemen Ilmu Komunikasi Fisipol
Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta

Mulai dari menjelajahi media digital untuk mencari informasi, mampu memahami pesan serta berbagai perlindungan privasi dan data pribadi, hingga berkolaborasi dengan orang lain melalui teknologi digital.

Asik Berselancar di Media Sosial: Eksis yang Bertanggung Jawab? Bisa Kok!

Pandemi COVID-19 memunculkan beragam persoalan baik di bidang kesehatan, ekonomi, politik, sosial, dan teknologi informasi komunikasi. Salah satu persoalan yang meresahkan adalah munculnya infodemi yang dianggap WHO sama berbahayanya dengan pandemi. Infodemi adalah keberlimpahan informasi terkait pandemi yang justru menimbulkan berbagai bentuk kekacauan informasi seperti misinformasi, disinformasi, dan malinformasi.

Misinformasi adalah informasi salah yang disebarkan oleh orang yang memercayainya sebagai kebenaran. Contohnya adalah misinformasi tentang jus jahe dan lada hitam yang dapat menyembuhkan COVID-19. Disinformasi merupakan informasi salah yang disebarkan oleh orang yang tahu bahwa informasi itu salah, jadi ada kesengajaan. Misalnya, disinformasi bahwa WHO memberikan konfirmasi bahwa COVID-19 tidak lebih berbahaya dari virus flu. Sedangkan malinformasi merupakan informasi yang berdasarkan realitas namun digunakan untuk merugikan orang, organisasi, atau negara lain. Kasus malinformasi ditemukan saat nama dan alamat pasien pertama COVID-19 di Indonesia disebarkan dan disalahgunakan.

Disinfodemi merupakan hoaks yang sama berbahayanya dengan Covid-19. Media sosial dengan kemudahannya juga memiliki informasi Covid-19 yang salah. Literasi digital menjadi solusi dalam menangkal hoaks terkait pandemi.

Tulisan ini mengajak pembaca untuk melakukan tiga langkah praktis menangkal disinfodemi COVID-19 di media sosial dengan terlebih dahulu memperbincangkan tiga kata kunci yang relevan: disinfodemi, media sosial, literasi digital.

Disinfodemi Sama Bahayanya dengan Pandemi

Images by United Nations COVID-19 Response

Istilah disinfodemi dimunculkan oleh UNESCO untuk memberikan istilah yang tepat terkait disinformasi yang disebarkan secara sengaja pada saat pandemi. UNESCO mencatat terdapat sembilan tema utama disinfodemi yang tersebar di seluruh dunia.

Pertama, asal dan persebaran COVID-19 sehingga memunculkan berbagai macam teori konspirasi tentang COVID-19. Kedua, statistik COVID-19 mengenai kasus positif dan kematian yang palsu dan menyesatkan. Ketiga, dampak ekonomi yang dilebih-lebihkan. Keempat, upaya mendiskreditkan jurnalis dan berbagai media yang melaporkan pandemi. Kelima, informasi ilmu kedokteran yang menyesatkan terkait gejala, diagnosis, dan cara penanganan COVID-19. Keenam, informasi yang menyesatkan tentang dampak pandemi terhadap masyarakat dan lingkungan seperti isu tentang lockdown dan segala akibatnya. Ketujuh, politisasi pandemi oleh orang-orang yang punya kuasa sekaligus kepentingan. Kedelapan, munculnya berbagai konten yang didesain untuk melakukan penipuan finansial secara daring. Kesembilan, disinformasi tentang figur publik yang didiagnosa terkena virus COVID-19.

Kesembilan jenis disinfodemi ini berakibat fatal jika dipercaya orang dibandingkan dengan misinfodemi dan malinfodemi. Mengapa? Sebab, disinfodemi bisa menempatkan nyawa seseorang dalam bahaya baik secara fisik maupun mental. Sebagai ilustrasi, jika informasi mengenai COVID-19 tidak berbahaya, maka orang yang percaya akan informasi tersebut tidak akan melakukan protokol kesehatan. Ia akan menolak menggunakan masker, tidak mau sering mencuci tangan, serta enggan menjaga jarak dengan yang orang lain. Dengan kondisi seperti itu, jika tubuhnya terkena virus COVID-19, maka ia mempertaruhkan nyawa orang, baik dirinya sendiri maupun orang lain.

Selain berakibat fatal pada kesehatan fisik, sikap orang yang tidak menganggap COVID-19 perlu disikapi dengan protokol kesehatan tertentu pasti akan memunculkan rasa kecemasan orang-orang yang ada di sekitarnya dengan kedisiplinan tinggi menjaga diri selama pandemi. Jadi tak ubahnya pandemi, disinfodemi juga sama berbahayanya.

Media Sosial sebagai Sumber Disinfodemi

Banjirnya disinfodemi yang di Indonesia sering disebut dengan hoax COVID-19 tercatat oleh Kominfo paling banyak ditemukan di media sosial. Selama pandemi, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mencatat 2020 unggahan yang menyesatkan terkait COVID 19 di media sosial terutama pada empat platform besar: Facebook, Instagram, Twitter, dan Youtube.

 Langkah tegas juga dilakukan oleh Kominfo dengan memblokir 1.759 akun yang menyebarkan hoax COVID-19. Kominfo kabarnya juga masih memproses ratusan konten media sosial yang mengandung disinfodemi pada pertengahan Oktober 2020.

 Pertanyaannya kemudian, mengapa disinfodemi banyak ditemukan di media sosial? Tulisan Anto Muhsin, seorang akademisi dari Northwestern University di Amerika Serikat menjelaskan beberapa alasannya.

 Pertama, manusia mempunyai insting dasar ingin mengetahui. Dengan rasa penasaran sekaligus kecemasan yang tinggi di masa pandemi, orang cenderung menerima informasi tentang COVID-19 yang dianggap menarik dan penting. Penerimaan ini sering mengabaikan proses berpikir kritis dalam mengolah informasi.

 Kedua, perkembangan teknologi informasi komunikasi dalam berbagai bentuk gawai dalam genggaman manusia modern membuat penggunanya bisa menjadi penerima sekaligus pengirim pesan. Tanggung jawab dan etika pengguna media sosial kemudian seringkali terlupakan karena keinginan untuk segera berbagi atau memproduksi informasi terkait COVID-19.

 Ketiga, dengan kemudahan mengakses informasi di media sosial, orang cenderung lupa untuk melakukan verifikasi, analisis, dan evaluasi terhadap informasi seputar COVID-19. Dengan kata lain, orang mengabaikan proses mengolah informasi sebelum menyebarkannya kepada pengguna media sosial lainnya. Persoalan lain adalah, munculnya ruang gema (echo chamber) yang menyebabkan pengguna media sosial hanya akan memercayai informasi apapun yang dianggapnya benar. Biasanya ruang gema ini muncul karena ia menerima informasi sama, meskipun tidak kredibel atau bahkan menyesatkan, secara berulang-ulang.

Tangkal Disinfodemi di Media Sosial

Literasi Digital sebagai Solusi Disinfodemi

Dengan banjirnya disinfodemi di media sosial, literasi digital bisa dijadikan salah satu solusi untuk mengatasi kekacauan informasi di masa pandemi. Sebab, maraknya disinfodemi di media sosial menunjukkan bahwa pengetahuan, sikap, dan keterampilan media digital masyarakat masih relatif rendah sehingga mereka cenderung mudah memercayai maupun menyebarkan informasi yang tidak akurat terkait pandemi sehingga perilakunya pun jadi kurang tepat dalam menghadapi pandemi. Misalnya saja anggapan yang keliru karena terpapar hoax mengenai konspirasi rumah sakit atau tenaga medis mengambil keuntungan dari penanganan COVID-19 mengakibatkan pasien positif COVID-19 tidak mau dirawat di rumah sakit sehingga tak hanya mengganggu penanganannya, tapi juga berpotensi untuk merugikan orang lain. Kasus di atas adalah salah satu contoh disinfodemi yang tak hanya menjadi bagian dari kekacauan informasi pada saat pandemi tapi juga merugikan kesehatan masyarakat.

 Dalam ruang lingkup internasional, berbagai organisasi internasional, misalnya PBB, WHO, UNESCO serius mengajak pemerintah di berbagai negara bekerja sama dalam memerangi disinfodemi bersamaan dengan memerangi pandemi. Berbagai program mereka lakukan untuk mengundang kolaborasi yang kuat dari berbagai pemangku kepentingan di level global.

 Salah satu pemangku kepentingan di level global yang turut bergerak melawan disinfodemi adalah berbagai platform media sosial, seperti Facebook dan Twitter. Tulisan Joan Donovan menyebutkan bahwa tantangan yang dihadapi oleh berbagai platform arus utama ini untuk menangkal disinfodemi tentu cukup tinggi. Pertama, mereka harus menyiapkan dengan cepat berbagai piranti teknologi keras maupun lunak untuk mampu dengan cepat mengenali konten-konten yang mengandung disinfodemi. Kedua, mereka harus juga mengaktifkan sistem transmisi untuk mengenali sistem waspada kedaruratan informasi yang kadang dimaknai secara berbeda di satu negara satu dengan negara lainnya.

 Selain Facebook dan Twitter, Google, Amazon, Apple juga menyatakan diri siap memblokir disinfodemi dalam pandemi COVID-19. Ketiga perusahaan raksasa ini menggunakan pola yang hampir mirip, yakni dengan cara memblokir beragam aplikasi virus COVID-19 dari sumber yang tidak resmi. Namun demikian, mereka juga mengarahkan pengguna ke situs resmi, seperti misalnya WHO.

 Bagaimana dengan Indonesia? Pemerintah diwakili Kementerian Komunikasi dan Informatika melakukan koordinasi dengan platform media sosial untuk penanganan disinfodemi. Bahkan pemerintah menyatakan bahwa untuk menghadapi disinfodemi, literasi digital perlu semakin digiatkan.

 Menurut riset Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) tahun 2017, gerakan literasi digital sebelum pandemi dilakukan oleh berbagai macam pelaku utama: perguruan tinggi, pemerintah, komunitas, lembaga swadaya masyarakat, sekolah, perusahaan, dan berbagai asosiasi profesi, juga media. Dalam pandemi pun, gerakan literasi melawan disinfodemi juga dilakukan oleh berbagai pelaku utama ini.

 Beberapa program gerakan lawan disinfodemi dilakukan oleh berbagai komunitas bisa digunakan sebagai contoh arti pentingnya literasi digital di masa pandemi. Pertama, Masyarakat Anti Fitnah (MAFINDO) melakukan pemetaan hoax COVID-19 yang digunakan untuk merancang berbagai kegiatan lawan disinfodemi. Kedua, KawalCovid19 mengawal informasi seputar COVID-19 secara tepat dan akurat. Ketiga, Japelidi dengan programnya kampanye 42 bahasa daerah untuk melawan hoax dan stigma COVID-19.

Literasi Digital untuk Melawan Disinfodemi

Tiga Langkah untuk Tangkal Disinfodemi

Berikut adalah tiga langkah yang bisa kita lakukan secara individual untuk menangkal disinfodemi di berbagai akun media sosial kita.

Pertama, proses aneka informasi terkait COVID-19 yang diterima di berbagai akun media sosial Anda dengan baik. Jangan tergesa-gesa untuk mendistribusikannya pada pengguna media sosial lainnya. Lakukan analisis informasi dengan meragukan setiap informasi yang muncul di media sosial kita, terutama informasi yang menggunakan banyak huruf kapitalnya, tanda seru, penggunaan kalimat yang bersifat agitatif, bahkan terkadang ada perintah untuk memviralkannya. Sikap skeptis sekaligus kritis kita sangat diperlukan saat menganalisis informasi. Lakukan verifikasi informasi dengan cara membandingkan setiap informasi dengan topik sama di berbagai sumber informasi yang akurat. Manfaatkanlah berbagai situs cek fakta untuk memastikan informasi terkait COVID-19 yang dapat dipercaya. Lakukan evaluasi terhadap informasi yang sudah diverifikasi kemudian pertimbangkan berbagai hal sebelum menyebarkannya: arti penting informasi tersebut bagi pengguna media sosial lainnya, kesesuaian dengan etika dan kaidah hukum yang berlaku, serta tidak menyalahgunakan data pribadi orang lain.

Kedua, terlibatlah secara aktif dalam merespon disinfodemi, janganlah diam jika menemukan disinfodemi dalam beragam akun media sosial Anda. Berpartisipasilah untuk setidaknya mengingatkan bahwa pengguna media sosial lain harus berhati-hati dalam menerima informasi. Jika perlu, bagikan cek fakta atau klarifikasi informasi yang sudah Anda lakukan agar pengguna media sosial lainnya tidak terjebak menjadi penyebar dan atau menjadi penerima disinfodemi yang bisa menimbulkan bahaya bagi dirinya maupun orang lain.

Ketiga, berkolaborasilah dengan pengguna media sosial lainnya untuk membuat berbagai program literasi digital baik daring dan luring untuk melawan disinfodemi. Idealnya, beragam program tersebut mempunyai variasi kelompok sasaran dan metode penyajian untuk yang meningkatkan kompetensi literasi digital baik secara fungsional maupun kritis. Demikian juga mitra yang kita ajak berkolaborasi sebaiknya juga semakin lama semakin beragam.

Dengan melakukan ketiga langkah yang merupakan kompetensi literasi digital kritis di atas, tentu saja Anda akan menjadi pengguna media sosial yang bertanggung jawab sekaligus menjadi duta literasi digital yang baik. Sebab, hanya dengan melawan disinfodemi, kita bisa melawan pandemi dengan lebih baik.