Dr. Syarifah Ema Rahmaniah, MSc. Ed.
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
Universitas Tanjungpura (UNTAN) Pontianak

Mengasah kreativitas untuk mendesain pesan dengan menggunakan teknologi digital agar mampu menjadi mediator agen edukasi kesadaran kesehatan publik melalui sarana teknologi yang tepat.

Akses Informasi Kesehatan di Media Sosial: Hindari Hoax, Cek Faktanya!

Fenomena sosial kesehatan yang terjadi sejak desember 2019 adalah wabah penyakit varian baru yang dikenal sebagai Corona Virus Diseases (COVID-19). Demikian masifnya wabah ini sehingga memaksa organisasi kesehatan dunia WHO menyatakan wabah penyakit ini sebagai pandemi, yang artinya berdampak meluas hampir keseluruh negara di dunia, tak terkecuali Indonesia. Permasalahan yang muncul dalam upaya pencegahan wabah itu meluas dilihat dari faktanya adalah lemahnya aksesibilitas masyarakat khususnya partisipasi masyarakat dalam mendukung kebijakan pemerintah dalam soal Social Distancing maupun Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Lemahnya partisipasi itu ditunjukkan oleh masih adanya masyarakat yang beraktivitas di luar rumah, tanpa memperhatikan protokol kesehatan COVID-19 itu, seperti berkumpul dalam jumlah banyak tanpa menjaga jarak aman dan tidak menggunakan masker, serta tidak juga sering mencuci tangan dengan menggunakan sabun atau penggunaan hand sanitizer

Secara umum lemahnya partisipasi dan kesadaran masyarakat dalam upaya pencegahan ini juga disebabkan oleh lemahnya akses informasi dan pengetahuan masyarakat mengenai seluk-beluk wabah penyakit COVID-19 ini. Bisa jadi hal ini disebabkan masyarakat kurang mendapatkan pencerahan serta sosialisasi dari pihak-pihak (stakeholder) yang bertanggungjawab untuk itu, terutama pihak pemerintah daerah setempat. Sosialisasi dan bimbingan sosial yang kurang dari pemerintah terkendala oleh keterbatasan pemerintah sendiri dari segi anggaran biaya, dan juga personilnya, disamping tentunya faktor geografis dengan jarak-jangkauan yang jauh dan luas juga menjadi kendala serius dalam mensosialisasikan program/upaya pencegahan COVID-19.

Berangkat dari permasalahan tersebut, dan dalam konteks upaya pencegahan terhadap meluasnya wabah dan dampak COVID-19, maka diperlukan kerjasama semua pihak untuk melakukan upaya edukasi literasi kesehatan masyarakat. Salah satu upaya yang telah dilakukan oleh Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) bekerja sama dengan Maarif Institut dan Love Frankie adalah menggagas beberapa kegiatan edukasi kesehatan dalam upaya pencegahan meluasnya wabah dan dampak COVID-19 dengan tujuan meningkatkan berpikir kritis dalam kegiatan TULAR NALAR. 

Revitalisasi Kampus Merdeka dan Merdeka Belajar

Kesehatan Bersama Tanggung Jawab Semua

Adapun tujuan edukasi TULAR NALAR adalah untuk menggerakan kesadaran kolektif masyarakat dengan fokus pada gerakan literasi digital dengan memberikan edukasi ke sekolah, universitas, komunitas ibu rumah tangga, kelompok millenial maupun institusi lainnya. Edukasi TULAR NALAR menekankan kepada tiga aspek yaitu aspek tahu, tanggap, dan tangguh. Oleh karena itu, sasaran edukasi TULAR NALAR ini adalah kelompok aktif pendidik seperti dosen dan guru sehingga mereka ke depannya dapat mentransformasikan model edukasi TULAR NALAR kepada generasi muda sehingga dapat menguasai kemampuan melakukan periksa fakta dengan mengedepankan kerja kolaborasi. 

Program dan kegiatan yang telah diupayakan dalam kurikulum TULAR NALAR  secara konseptual dapat dipahami dalam pendidikan berbasis masyarakat sebagai upaya  peningkatan rasa kesadaran, kepedulian, kepemilikan, keterlibatan, dan tanggung jawab masyarakat. Gerakan komunitas yang dibangun dalam kurikulum TULAR NALAR  ini dapat terjadi karena masyarakat sebagai pengguna kurikulum dapat meningkatkan kesadaran dan kepekaan untuk melakukan upaya bersama mewujudkan gerakan literasi anti-hoax.

Salah satu tool periksa fakta yang dapat dikenalkan kepada masyarakat adalah teknologi anti-hoax dengan menciptakan Aplikasi Hoax Buster Tools (HBT) untuk Android dan iOS, aplikasi untuk membantu memeriksa dan memverifikasi informasi, turnbackhoax.id, situs web kompilasi hasil periksa fakta, CekFakta.com. Kurikulum TULAR NALAR merangkum delapan tema penting seperti berdaya internet, internet dan ruang kelas, menjadi warga digital, internet dan keluarga, internet dan kesehatan, internet damai, internet dan siaga bencana, serta internet merangkul sesama.

Dengan demikian kurikulum TULAR NALAR telah menjadi terobosan baru dalam program “Merdeka Belajar” dan “Kampus Merdeka” karena proses kerja TULAR NALAR mengedepankan kolaborasi berjenjang dan berkelanjutan dengan merangkul beberapa komunitas pegiat literasi dan  perguruan tinggi. Sebagaimana telah menjadi mandat pemerintah untuk merekonstruksi kurikulum pendidikan berdasarkan  Permendikbud no. 3 tahun 2020 tentang Merdeka Belajar Kampus Merdeka, salah satu visi yang diharapkan Kemendikbud adalah memperkuat kapasitas mahasiswa dalam kemampuan literasi data, literasi teknologi dan literasi kemanusiaan. Model kampus merdeka dan merdeka belajar perlu menekankan  kolaborasi antara kampus dengan masyarakat yang peduli dengan literasi dan edukasi yang memerdekakan dan memanusiakan baik itu dengan model daring maupun luring.  

Model daring dan luring adalah bagian dari  literasi media sebagai bagian dari gerakan sosial yang mengontrol secara sistematis atas interpretasi terhadap muatan pemberitaan dan pesan media yang selama ini menjadi alat kepentingan sekelompok orang yang telah mengkonstruksinya melalui media cetak dan elektronik. Literasi media merupakan upaya mentransformasikan  kemampuan kritis warga masyarakat dalam menyerap informasi dari media. Dengan demikian warga masyarakat perlu mendapatkan pembekalan dan penguatan kapasitas untuk bijak menggunakan media sehingga menjadi warga masyarakat yang bijak dan inovatif dengan cara: 

 

– Kerja berjejaring yang mengutamakan kolaborasi berbasis semangat kerelawanan dengan merangkul komunitas pegiat literasi dan beberapa perguruan tinggi di Indonesia

– Menggunakan model pendekatan daring dan luring telah membangun semangat berpikir kritis dalam menerima dan menyebarkan informasi hal ini dipertegas dengan beberapa jargon yang selalu dikampanyekan seperti “turn back hoax”, “ sharing before saring”. 

– Program yang mampu membangun literasi data karena masyarakat diajak untuk melakukan cek fakta atas kebenaran data yang diterima dari informasi berikut dengan sumber data yang dapat dipercaya.

– Program yang mampu membangun literasi media dan literasi digital dengan menggunakan beberapa alat bantu berbasis digital untuk melakukan cek fakta seperti: hoax buster tool, WhatsApp Hoax Buster/Kalimasada dan Yudistira dan juga beberapa video edukasi sesuai dengan 8 tema utama.

– Program yang mampu membangun semangat literasi kemanusiaan yang melibatkan kelompok sasaran yang efektif seperti anak muda, para pendidik dan tokoh masyarakat.   

Berikut adalah contoh materi edukasi hidup sehat dan aman semasa pandemi yang menjelaskan situs Kawal COVID-19 dan strategi melakukan cek fakta secara sederhana. Ada tiga cara sederhana untuk melakukan cek fakta yaitu pertama mengunjungi website Google.com untuk mendapatkan akses informasi dari media mainstream yang dapat dipercaya, lalu kunjungi website turnbackhoax.id, dan terakhir  men-download hoax buster tool dari Google Playstore.

Pentingnya Edukasi Literasi Kesehatan di Masa Pandemi

Literasi Kesehatan

Literasi kesehatan meliputi kemampuan individu untuk memperoleh, memahami, menilai, dan menerapkan informasi kesehatan yang diterima sehingga mampu mempertimbangan dan mengambil keputusan dengan bijak dan tepat mengenai perawatan dan tata kelola kesehatan, pencegahan penyakit, dan kampanye kesehatan. Rendahnya tingkat literasi kesehatan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan mengenai tindakan kesehatan yang bersifat pencegahan, perawatan diri, dan pengobatan. Dengan demikian literasi kesehatan individu perlu dikembangkan dan diupayakan terutama di masa pandemi karena literasi kesehatan merupakan salah satu predictor terkuat untuk mencegah potensi terpapar penyakit di tingkat individu dan komunitas. Selain itu rendahnya tingkat literasi kesehatan berkontribusi terhadap beberapa masalah kesehatan seperti, penggunaan obat obatan yang tidak sesuai anjuran, pelayanan kesehatan yang tidak memadai,  tata kelola penanganan wabak penyakit yang buruk, tanggapan yang lamban untuk kondisi-kondisi yang kritis, kondisi kesehatan yang kurang baik, rendahnya kepercayaan publik dan penghargaan diri, menguras energi dan uang individu dan masyarakat, serta memantik terjadinya diskriminasi secara sosial. Dalam konteks sosial, hal tersebut memberikan kerugian besar bagi masyarakat dan negara karena rendahnya kualitas pelayanan sumber daya manusia sehingga negara akan mengeluarkan anggaran yang besar untuk menyeselesaikan masalah yang diakibatkan oleh buruknya kualitas pelayanan kesehatan.

Literasi kesehatan didefinisikan sebagai atribut yang melekat dari kemampuan literasi masyarakat yang juga dipahami sebagai keadaan dinamis masyarakat yang dipengaruhi oleh factor di luar dirinya, seperti petugas kesehatan,institusi kesehatan dan pemerintah sebagai pembuat kebijakan serta budaya yang melingkupi masyarakat. Literasi kesehatan dapat berperan besar dalam menentukan keberhasilan pembangunan kesehatan di Indonesia jika diketahui pemetaannya sehingga memudahkan pemerintah dalam dalam mencapai masyarakat sehat, mandiri, dan berkeadilan. Tingginya tingkat kesadaran kolektif memberikan pengaruh kepada tingkat partisipasi dan kemanfaatan edukasi literasi kesehatan semasa pandemi. 

Kelola Hidup Sehat Semasa Pandemi

Tular Nalar untuk Literasi Kesehatan

Salah satu upaya untuk meningkatkan literasi kesehatan adalah pendidikan mitigasi pandemi untuk komunitas terutama kepada kelompok yang rentan terpapar daerah rawan bencana. Dengan demikian kurikulum TULAR NALAR  menjadi starting point untuk meningkatkan literasi kesehatan masyarakat yang ditandai dengan adanya tingkat pemahaman dalam sikap dan keterampilan memilah sumber informasi yang benar. Diharapkan para peserta kurikulum TULAR NALAR dapat meningkatkan pemahaman yang kritis terkait dampak pandemi COVID-19. Bergelut langsung dengan dampak pandemi telah menumbuhkan sosial-emosional dan kesadaran kolektif untuk melakukan edukasi tentang pentingnya memilah informasi seputar COVID-19 dan tata kelola hidup aman dan sehat semasa pandemi. Selain itu, mereka yang mendapatkan materi edukasi anti-hoax pemberitaan COVID-19 dan memiliki kemampuan identifikasi dan cek fakta berita hoax memiliki tingkat perilaku yang baik untuk menjadi relawan edukasi dan literasi anti-hoax di komunitas mereka. Di masa pandemi ini kemampuan identifikasi dan cek fakta informasi hoax menjadi pengetahuan penting agar mereka dapat menjadi fasilitator dan motivator program Desa Siaga COVID-19. Dengan kemampuan cek fakta ini mahasiswa mampu membangun kesiapsiagaan dan meningkatkan kesadaran dan pengetahuan publik dalam menghadapi pandemi COVID-19. Namun, masyarakat belum terlalu memahami faktor-faktor potensial dan krusial dalam mewujudkan Desa Siaga COVID-19 karena keterlibatan mereka dalam program ini belum terlalu banyak dilibatkan dan disosialisasikan. 

Manfaat lainnya adalah  sebagai upaya membangun gerakan komunitas dalam mendukung gerakan literasi edukasi kesehatan semasa pandemi sehingga masyarakat dapat memiliki kesadaran tinggi dalam gerakan sosial dan empati kemanusian yang baik. Tingginya tingkat kesadaran kolektif memberikan pengaruh kepada tingkat partisipasi dan kemanfaatan edukasi literasi kesehatan semasa pandemi. Melibatkan para pendidik dan kelompok millenial adalah strategi konkret dan progresif untuk meningkatkan kesiapsiagaan atau mitigasi pandemic di desa mereka yang dikenal dengan program Desa Tanggap/Siaga COVID-19. Oleh karena itu, program edukasi literasi kesehatan dengan materi cara identifikasi atau memilah informasi kesehatan dan pandemi, tata kelola hidup sehat dan aman semasa pandemi COVID 19 harus diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran di kampus dan di sekolah.

Menjaga Ketahanan Kesehatan Masyarakat Butuh Strategi

Penutup

Kurikulum TULAR NALAR telah berupaya membangun kesadaran dan meningkatkan literasi teknologi, literasi data, dan literasi kemanusiaan kalangan anak muda. Model pembelajaran dengan sistem daring di masa pandemi secara perlahan telah membangun literasi teknologi mahasiswa meskpun masih banyak yang mengalami digital inequality. Literasi data adalah sebuah kemampuan menyerap dan memilah data atau informasi yang diterima sehingga informasi tersebut memberikan kemanfaatan dan tidak menyebabkan kerancuan informasi. Literasi kemanusiaan tidak hanya membangun kesadaran kolektif, empati kepada kelompok rentan terpapar, dan gerakan bersama atas nama kemanusiaan. Membangun literasi kemanusiaan di masa pandemi ini menjadi salah satu nilai utama yang perlu diupayakan agar dampak sosial ekonomi pandemi dapat direduksi dan diantisipasi. Meskipun sistem daring menjadi pilihan dalam edukasi dan pembelajaran selama pandemi, tidak berarti edukasi kehilangan esensi utamanya yaitu tranformasi sosial kemanusiaan. Masa pandemi belum banyak gerakan dan edukasi kemanusiaan fokus kepada kelompok rentan. Terutama dalam upaya memenuhi kebutuhan khusus kelompok rentan. Kelompok rentan yang lebih beresiko terpapar adalah ibu hamil, ibu menyusui, anak kecil, orang lanjut usia, dan kelompok disabilitas. Kurikulum TULAR NALAR telah berupaya untuk memberikan edukasi kepada kelompok yang rentan terpapar salah satunya adalah kelompok difabel. Kurikulum TULAR NALAR juga telah berupaya untuk membangun kesadaran literasi kemanusiaan menjadi gerakan kolaborasi dengan semangat kerelawanan.

 

Poin-poin Internet dan Kesehatan:

Covid-19 merupakan pandemi yang menjadi ancaman global, begitu pun dengan informasi salah seputar pandemi. Rendahnya literasi kesehatan menjadi ancaman pada masa pandemi. Tular Nalar menjadi salah satu media untuk memahami literasi kesehatan di masa pandemi.