Dr. Ni Made Ras Amanda Gelgel, M.Si.
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Udayana, Denpasar

Berpartisipasi aktif dalam menggunakan layanan publik digital sekaligus mampu berjejaring dengan pihak lain untuk membangun lingkungan digital yang ramah anak.

Internet dan Keluarga: Pahami dan Terapkan Digital Parenting Sejak Dini

Keluarga yang kuat, maka Bangsa akan kuat

Membangun bangsa dan kepribadiannya dimulai dari dibangunnya institusi sosial terkecil di masyarakat yakni keluarga. Ketangguhan dan kepribadian seseorang terbentuk dari keluarga yang kuat dan sehat. Komunikasi yang harmonis, berlangsung dua arah dan terjadinya kesepahaman antar keluarga menjadi inti kekuatan keluarga. Penanaman nilai dan norma adalah proses transmisi yang terjadi di keluarga sejak dini. Maka pola asuh yang baik dinilai akan mampu memberi bekal kepada anak sebagai penerus bangsa yang kuat dalam menghadapi ancaman ke depan. 

Masyarakat kini memasuki gelombang berikutnya yakni gelombang teknologi informasi yakni Internet. Menurut data terakhir dari Asosiasi Penyelenggara Jasa internet Indonesia atau APJII, jumlah pengguna internet di Indonesia pada tahun 2019 mencapai 196,71 juta jiwa atau 73,7% dari jumlah penduduk Indonesia. Angka ini naik hampir 9% dibandingkan data pada tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa internet telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sebagian besar masyarakat Indonesia. Data menunjukkan bahwa 95,4% menyatakan terhubung dengan internet smartphone setiap hari, di mana 97,1% mengakses internet menggunakan paket data dari operator seluler. APJII juga mencatat bahwa 49, 3% masyarakat Indonesia menggunakan internet untuk menonton video online. Data ini termasuk anak-anak. Data ini menunjukkan bahwa internet telah menjadi bagian tidak terpisahkan tetapi perlu diingat bahwa internet memiliki beragam dampak.

Internet dan Keajaibannya

Digital Parenting

Internet dan kekuatan di dalamnya dapat dikatakan sebagai inovasi terbesar yang telah berhasil mempengaruhi bagaimana kehidupan bermasyarakat di dunia. Internet membuat informasi dapat diakses dari mana pun kapan pun oleh siapa pun. Internet dinilai mampu menjembatani banyak hal seperti mimpi, harapan, dan tentu saja pengetahuan. 

Namun bagaimana seseorang beradaptasi atau difusi inovasi atas teknologi ini tidaklah mudah. Perbedaan generasi, menyebabkan perbedaan penggunaan dan kebiasaan dalam mengakses internet atau media digital habit. Sebagian membutuhkan waktu lama dalam beradaptasi menggunakan teknologi internet, sebagian dianalogikan lahir tumbuh, dan berkembang bahkan bersama internet itu sendiri. Hal ini menyebabkan adanya perbedaan proses adaptasi dan penggunaan internet hingga perbedaan pola asuh akibat dari kemajuan teknologi informasi internet. Namun selain dampak positif dari internet yang bagai pedang bermata dua internet juga memiliki sisi negatifnya. 

Adalah tugas dari setiap individu untuk dapat memaksimalkan sisi positif dan menekan sisi negatif. Kemudian keluarga adalah salah satu institusi terkecil di masyarakat yang memiliki peran sentral dalam mengembangkan pola asuh yang baik di masa digital seperti sekarang.

Jaga Keluarga dari Ancaman Konten Negatif

Menjaga Keluarga Aman dari Ancaman Negatif Konten Internet

Kejahatan di internet atau cyber crime angkanya selalu meningkat dari tahun ke tahun. Bentuk keragaman dan modus kejahatan yang dilakukan di komunitas digital semakin variatif. Korban dari kejahatan atau dampak negatif dari internet juga semakin beragam. Tidak hanya mereka yang aktif, tetapi kejahatan melalui internet juga terjadi pada anak anak usia di bawah umur. Pornografi adalah salah satu contoh di mana anak menjadi korban kejahatan melalui media internet. Anak yang sebagian besar waktunya masih berada di rumah adalah jadi tanggung jawab keluarga untuk memastikan keamanan dan kenyamanan anak agar tidak terdampak hal yang negatif dari internet. 

Selain pornografi ancaman lainnya adalah kekerasan di internet, kekerasan ini dapat beragam. Contohnya konten-konten di internet yang mengandung kekerasan baik visual maupun kekerasan verbal. Konten di aplikasi seperti di media sosial dan aplikasi pemutaran video kerap kali tanpa sensor yang menampilkan adegan kekerasan verbal dan non verbal.

Ancaman lainnya adalah cyberbullying, atau perundungan melalui media siber. Dunia siber adalah dunia maya yang kerap kali tidak menampilkan hal yang sebenarnya. Komunikasi yang terjadi melalui mediasi komputer membuat sebagian pengguna internet lebih mudah menghina atau mengatakan sesuatu yang dapat menyinggung orang lain. Cyberbullying tidak dapat dipandang sebelah mata. Kawan Tular Nalar telah banyak mendengar korban-korban dari cyberbullying tidak hanya di Indonesia tapi juga di tempat lain di sisi dunia lain.

Ancaman lain adalah beredarnya informasi salah di media internet. Anak dan keluarga yang tidak memiliki ketangguhan dan kompetensi atas informasi salah maka akan mengkonsumsi informasi yang salah serta ikut serta menyebarluaskan informasi tersebut. Maka kemampuan literasi adalah hal yang paling utama untuk ditanamkan di keluarga tidak hanya untuk anak namun juga seluruh anggota keluarga.

Ancaman atau dampak berikutnya adalah kecanduan anak atau anggota keluarga pada gadget-nya. Durasi rata-rata berinternet yang mencapai lebih dari delapan jam di Indonesia, menyebabkan banyak kisah mengenai kecanduan internet atau gadget pada anak. Hal ini tentu saja menjadi catatan khusus dan hal yang perlu diperhatikan. Kecanduan pada internet bukan hanya kecanduan berselancar di internet namun juga kecanduan bermain game hingga mengeluarkan banyak uang hingga kecanduan berbelanja online.

Isu berikutnya yang kerap kali dilupakan adalah isu keamanan dan privasi. Sharenting adalah salah satu bentuknya, kebiasaan membagikan atau men-share  foto atau kegiatan anak mereka di internet kadang kala tidak disadari bahwa hal ini mengandung bahaya yang mengancam keselamatan anak dan keluarga atau penyalahgunaan informasi untuk hal-hal yang tidak sepatutnya. Hal ini tidak hanya menjadi tanggung jawab orang tua namun juga menjadi bagian tanggung jawab dari seluruh anggota keluarga.

Butuh Kolaborasi Antar Orang Tua dan Anak untuk Ciptakan Internet Sehat dalam Keluarga

Berkolaborasi Bersama Untuk Internet yang Sehat di Keluarga

Internet telah memasuki hampir seluruh lapisan umur di Indonesia, internet sebagian besar diakses melalui telepon pintar/ smartphone. Kepemilikan telepon pintar semakin meningkat di Indonesia. Tak ayal anak dan orang tua memiliki telepon pintarnya masing-masing atau anak menggunakan telepon pintar orangtuanya untuk berselancar di internet. Perbedaan kebutuhan dan media digital habit antara anak dan orang tua membuat pentingnya antar keluarga untuk saling menjaga dan berkolaborasi agar seluruh keluarga merasakan kenyamanan dan aman yang sama dalam menggunakan internet. Untuk itu diperlukan keterbukaan dan komunikasi dua arah antara anak dan orang tua yang menjadikan kolaborasi bersama berjalan efektif.

Kemampuan mengakses menjadi hal yang penting yakni mendampingi dan berkomunikasi dalam mengakses informasi/ konten dalam lingkungan digital. Selain mengakses, Kawan Tular Nalar perlu tangguh dalam mengelola informasi. Tangguh dalam memilah data, informasi dan konten yang dapat diakses dan tidak membawa dampak negatif untuk anak. Tak hanya mengelola, Kawan Tular Nalar penting untuk Tangguh dalam mendesain pesan yang sesuai dengan regulasi dan tidak membahayakan anak maupun keluarga. Maraknya informasi yang tidak sesuai untuk anak menuntut Kawan Tular Nalar Tangguh bersama dan berkolaborasi dengan anak untuk menilai sumber data digital yang baik. Pesan yang sudah diverifikasi kebenarannya, tak hanya sampai di Kawan Tular Nalar saja. Kita perlu berbagi data, informasi, dan konten digital dengan orang lain melalui teknologi digital yang tepat. Misalnya membagikan di grup percakapan, akun media sosial, dan sebagainya yang sesuai dengan kebutuhan anak. Media sosial yang mampu masuk ke ruang-ruang pribadi maka penting untuk membangun ketangguhan atas dampak negatif internet sejak dini di anak-anak dan orang tua sehingga tangguh dan mampu melindungi data dan mengajarkan bagaimana menciptakan internet yang aman bersama-sama dengan kelompok lainnya.