Dr. Puji Lestari, M.Si.
Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta

Setiap manusia memiliki kerentanan dalam menghadapi bencana. Tentunya hal ini akan berpengaruh pada sikap dan perilaku yang tidak berdaya dalam mengelola ancaman bencana.

Internet dan Siaga Bencana: Lawan Hoax COVID-19 Bersama

PRAKATA

Kurikulum dengan tema Internet dan Siaga bencana ini menyajikan perspektif kebencanaan secara global yang disinkronkan dengan media digital dari berbagai sudut pandang sesuai dengan Kurikulum Tular Nalar yang terdiri dari level TAHU, TANGGAP, dan TANGGUH. Perspektif tersebut dijelaskan berdasarkan teori, realitas hasil penelitian maupun fenomena bencana yang terjadi di dunia dan di Indonesia. Penyajian kurikulum ini mengulas tentang paradigma bencana, trend bencana, manajemen bencana, respons terhadap bencana, peran pemerintah, LSM, stakeholder, maupun masyarakat tentang hoax disaster dalam media digital. Landasan tersebut menjadi bahan ajar kawan Tular Nalar dalam menumbuhkan generasi muda yang memiliki kesadaran, siap siaga (mitigasi), tanggap dan tangguh dalam menghadapi bencana.

Kurikulum Tular Nalar yang bertema Internet dan Siaga Bencana sebagai landasan dalam menanggapi isu kebencanaan pada revolusi media dan komunikasi yang berdampak signifikan dalam bentuk mitigasi non-struktural. Mitigasi non-struktural merupakan aktivitas yang melibatkan banyak orang pada level personal. Aktivitas ini secara struktural dan fisik tidak mampu melindungi mereka dari bencana seperti tanpa asuransi, rencana darurat bencana, platform untuk komunitas, meningkatkan kewaspadaan bencana, dan lain-lain. Program Tular Nalar dengan tema Internet dan Siaga Bencana mendorong platform untuk komunitas agar siap siaga dan tanggap bencana untuk seluruh generasi penerus bangsa Indonesia yang tangguh.

Berbicara bencana, Indonesia merupakan daerah rawan bencana. Dikatakan terjadi bencana ketika masyarakat dan tatanan sosial belum mempunyai kapabilitas yang sistematis dalam pengelolaan terhadap ancaman bencana. Dampak bencana dapat dilihat dari berbagai aspek, mulai dari berubahnya skema sosial yang tidak normal, terjadinya kerugian harta benda atau jiwa manusia, sehingga menyebabkan penyalahgunaan aktivitas digital yang tidak valid menjadi sumber bencana. 

Setiap manusia memiliki kerentanan dalam menghadapi bencana. Tentunya hal ini akan berpengaruh pada sikap dan perilaku yang tidak berdaya dalam mengelola ancaman bencana. Timbulnya kerentanan berawal dari ketidaksiapan masyarakat dalam menghadapi fakta bencana, sehingga rasa kecemasan dan kepanikan menyebabkan pikiran kacau. Namun kerentanan bisa diubah menjadi ketangguhan apabila ada kolaborasi antar berbagai pihak. Berkaitan dengan hal tersebut manusia harus belajar bagaimana menjadi manusia yang memiliki rasa share responsibility dan kolaborasi dalam penanganan kebencanaan. Kolaborasi antar pihak perlu dibangun dalam masyarakat. Penciptaan kolaborasi dapat dilakukan antara lain melalui kurikulum Tular Nalar yang tangguh khususnya pada kebencanaan di era media digital. Kawan Tular Nalar menjadi pelopor yang memiliki kemampuan memproduksi dan membagi pesan positif demi terciptanya manusia tangguh bencana. 

MITIGASI DAN BENCANA

Lakukan Penilaian Risiko Bencana

Konsep, Risiko, Ancaman, Kerentanan dan Kapasitas

Uraian di atas, bencana didefinisikan sebagai suatu kejadian yang diakibatkan oleh faktor alam atau non-alam yang menyebabkan kematian, kerugian, atau kerusakan komunitas. Kejadian yang tidak menyebabkan kematian atau kerusakan dapat disebut bukan bencana. Sedangkan potensi terjadinya sesuatu yang akan menyebabkan kematian atau kerusakan disebut ancaman atau bahaya (hazard). Oleh karena itu, dalam diskursus manajemen bencana seringkali dikenal kata-kata seperti bencana (disaster), ancaman/bahaya (hazard), kerentanan (vulnerability), kapasitas (capacity), terdampak (exposure), dan risiko (risk). Terminologi tersebut merupakan konsep yang saling terkait.

Ancaman (hazard) merupakan suatu kondisi biasa. Namun, tingkat ancaman bencana akan meningkat ketika tingkat kerentanan meningkat dan kapasitas untuk mengatasi ancaman tersebut menuju. Semakin tinggi ancaman bahaya di suatu daerah maka semakin tinggi risiko daerah tersebut terkena bencana. Dengan kata lain, frekuensi atau kemungkinan ancaman dan kerentanan berpengaruh kepada tingkatan risiko atas dampak bencana yang terjadi. Hubungan antara ancaman, kerentanan dan kapasitas dirumuskan dalam sebuah persamaan umum yang digunakan untuk menghitung risiko bencana yang akan menghasilkan sebuah dampak dari suatu bencana di dalam suatu kawasan. Lanjutan dari penilaian risiko bencana tersebut dapat dijadikan sebagai masukan utama untuk menyusun perencanaan manajemen bencana.

 

1. Risk (Risiko) adalah bagian yang tidak dapat dihindari dari kehidupan dan mempengaruhi setiap manusia di mana pun, kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan, orang dewasa dan anak kecil. Setiap pilihan yang diputuskan oleh individu dan masyarakat melibatkan faktor risiko yang seringkali tidak disadari dan tidak dapat dihindari. Risiko pada tingkat individu biasanya dapat dikelola dan dikurangi setelah individu tersebut menyadarinya. Misalnya terpaan informasi hoaks yang beredar di masyarakat tanpa terkendali, menyebabkan timbulnya kecemasan yang membahayakan masyarakat. Teknik pengurangan risiko untuk setiap bahaya pada masyarakat secara efektif mengurangi kerentanan terhadap risiko dari bahaya tersebut baik lingkup nasional maupun internasional. Pengurangan risiko merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat. Secara kolektif seluruh warga harus menyadari tanggung jawab pengurangan risiko bencana. Arti risiko bencana atau bahaya secara luas adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu kawasan dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta, dan gangguan kegiatan masyarakat (Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana).

Makna risiko bencana pada Undang-Undang tersebut harus diimplementasikan dalam masyarakat. Masyarakat yang paham arti risiko bencana diharapkan dapat melakukan mitigasi bencana di mana pun berada agar dapat mencegah terjadinya bencana.

 

2. Hazard (Ancaman/Bahaya) dapat didefinisikan sebagai kondisi atau kejadian yang berbahaya sehingga mengancam atau berpotensi mengakibatkan kehilangan jiwa dan/atau kerusakan terhadap harta benda dan/atau lingkungan (Central Board of Secondary Education, 2006). Hazard merupakan hal yang perlu diketahui sebelum masyarakat melakukan tindakan tentang manajemen bencana. Hal ini dilakukan untuk menemukan jenis dan karakteristik dari ancaman yang akan terjadi sehingga dapat disusun perencanaan dan penanggulangan bencana yang tepat dan efektif. Hazard dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis berdasarkan sumber terjadinya, yaitu natural hazard, man made hazard atau technological hazard, dan social hazard. Natural hazard adalah ancaman bahaya yang disebabkan oleh fenomena alam (ancaman meteorologi, geologi, atau biologi). Contoh natural hazard, yaitu tsunami, tanah longsor, banjir, dan gunung berapi. Man made hazard adalah ancaman bahaya yang terjadi akibat kelalaian manusia. Contohnya, bencana yang diakibatkan oleh kegiatan industri, fasilitas pembangkit energi, pembuangan limbah, polusi, jebolnya bendungan, perang dan lainnya. Sedangkan social hazard merupakan bahaya sebagai akibat dari tindakan manusia yang anti sosial (Coppola, 2007). Contoh social hazard yaitu pembuatan hoaks bencana covid-19. Selain dari sumber terjadinya, ancaman juga dibedakan berdasarkan tingkatannya yaitu potensi bahaya utama (main hazard) dan potensi bahaya lanjutan (collateral hazard). Bahaya utama seperti tsunami, letusan gunung api, gempa bumi, banjir, tanah longsor, kekeringan, epidemi, kebakaran gedung, dan kegagalan teknologi. Bahaya ikutan seperti kebakaran hutan akibat kekeringan, kebakaran akibat rusaknya jaringan listrik karena gempa, longsor akibat gempa, penyakit akibat bocornya atau keluarnya limbah industri, dan penyakit pascabanjir.

 

3. Vulnerability (Kerentanan) dapat didefinisikan sebagai ketidakmampuan masyarakat, struktur, pelayanan atau kondisi geografi wilayah untuk mengurangi dampak kerusakan atau gangguan dari ancaman bahaya. Kerentanan dapat dikelompokkan berdasarkan beberapa jenis, yaitu physical vulnerability, socio vulnerability, economy vulnerability, dan human vulnerability. Sebagai contoh physical vulnerability adalah hancurnya sarana prasarana fisik, socio vulnerability seperti tatanan masyarakat yang rusak, economy vulnerability seperti rusaknya tatanan ekonomi dan human vulnerability, seperti lemahnya individu dalam menghadapi bahaya.

 

4. Capacity (Kapasitas) dapat didefinisikan sebagai sumber daya atau kekuatan yang dalam masyarakat dan lingkungannya yang memungkinkan untuk mencegah, menyiapkan, mengatasi, dan memperbaiki dampak suatu bencana dengan cepat. Beberapa jenis kapasitas antara lain (a) Kapasitas Fisik, yaitu kemampuan untuk memperoleh barang atau benda yang dibutuhkan untuk mencegah, mempersiapkan, mengatasi, dan memperbaiki apabila terjadi bencana; (b) Kapasitas Sosial, yaitu terdapat tenaga yang terorganisir untuk dapat mencegah, mempersiapkan, mengatasi, dan memperbaiki kembali daerah yang terkena bencana; (c) Kapasitas Kelembagaan adalah kemampuan kolektif masyarakat dalam bentuk ikatan formal maupun nonformal dalam suatu sistem yang terorganisasi dalam pengambilan keputusan pada sebuah pencegahan, tindakan, dan perbaikan bila terjadi bencana; (d) Kapasitas Ekonomi adalah kemampuan masyarakat untuk menggunakan dan memanfaatkan sumber daya ekonomi sehingga bisa mencegah, mengatasi, dan memperbaiki perekonomian masyarakat dari bencana.

Jenis dan Karakteristik Ancaman Bencana

Dalam bahasa asing (Inggris), ada perbedaan kata disaster (bencana) dan hazard (ancaman atau bahaya). Ancaman atau bahaya adalah fenomena alam yang dapat membahayakan manusia dan lingkungannya. Bencana adalah akibat atau dampak yang ditimbulkannya. Untuk menerjemahkan, hoax hazard mestinya disebut “ancaman/bahaya hoaks”. Sedangkan dampak hoaks kita sebut “bencana hoaks”. Kita lebih sering menggunakan ancaman atau bahaya, namun dalam klasifikasi juga menyebutkan kata bencana. Pada umumnya, pengelompokan jenis dan karakteristik ancaman dilihat berdasarkan penyebabnya. Misalnya, ada yang membagi jenis ancaman atau bencana menjadi dua, yaitu ancaman alam (natural disaster) dan ancaman non alam (man made disaster). Ada juga yang membedakan bencana alam, bencana yang disebabkan oleh manusia, dan bencana sosial. Terlepas dari beberapa perbedaan di atas, pengetahuan atas jenis dan karakteristik setiap ancaman dan perbedaan diantaranya perlu dipahami oleh semua pihak terutama para pengambil kebijakan dan pengelola yang terlibat dalam pengurangan risiko bahaya.

 

Jenis Bahaya Berdasarkan Penyebabnya

Bahaya dapat disebabkan oleh kejadian alam (natural disaster) maupun oleh ulah manusia (man made disaster). Beberapa faktor penyebab dari bahaya sebagai berikut (Bappenas, 2006):

1. Bahaya alam (natural hazards) dan ancaman karena ulah manusia (man made hazards) yang menurut United Nations International Strategy for Disaster Reduction (UN-ISDR) dapat dikelompokkan menjadi ancaman geologi (geological hazards), ancaman hidrometeorologi (hydrometeoro-logical hazards), ancaman biologi (biological hazards), ancaman teknologi (technological hazards), dan penurunan kualitas lingkungan (environmental degradation).

2. Kerentanan yang tinggi dari masyarakat, infrastruktur, dan elemen-elemen di kawasan yang berisiko bahaya. 

Bahaya yang disebabkan oleh alam (bencana alam) namun diikuti oleh berita hoax yang disebarkan para pembuat berita hoax dapat menimbulkan kerentanan bagi masyarakat yang kurang memiliki pemahaman tentang literasi digital dan literasi media.

RESPON STATUS SAAT BENCANA

1. Jumlah Penyintas

Jumlah penyintas menjadi bagian terpenting dari respon status. Antisipasi saat terjadinya bencana adalah meminimalisir jumlah penyintas, maka dari itu jumlah penyintas sering dikatakan sebagai tolok ukur sebuah keberhasilan pengelolaan bencana. Informasi jumlah penyintas dapat digunakan dalam pendataan bantuan, baik sandang maupun pangan. Keterkaitan jumlah penyintas ini akan digunakan relawan dalam pengelolaan manajemen dalam penanganan bencana. Jumlah penyintas perlu divalidasi sesuai data yang akurat menurut sumber terpercaya agar dapat mengurangi risiko bencana.

Contoh kasus yang terjadi akibat COVID-19 di Indonesia tentang jumlah penyintas yang tidak jelas (adanya perbedaan data antara pusat dan daerah). Hal ini menimbulkan rumitnya proses manajemen penanganan COVID-19 di Indonesia.

2. Bantuan 

Selain jumlah penyintas, bantuan menjadi bagian respon status yang tak kalah penting. Berdasarkan jumlah data penyintas yang diperoleh, maka selanjutnya ditindaklanjuti dalam pendataan bantuan yang akan dikirimkan. Terkadang fenomena yang terjadi bahwa bantuan layaknya oasis dalam gurun pasir, yang berarti penyintas sangat menunggu bantuan tersebut. Hal ini berimbas pada fakta banyaknya yang mendahulukan bantuan daripada pendataan jumlah penyintas. Akibatnya bantuan yang datang bisa sangat berlebihan dan tak jarang bantuan yang disalurkan terjadi kekurangan karena tidak mengetahui jumlah penyintas. Sebagai contoh bantuan pemerintah pada masa pandemi COVID-19 menimbulkan ketidakadilan dalam penyaluran bantuan di masyarakat, banyak bantuan yang tidak tepat sasaran.

3. Evakuasi 

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti evakuasi adalah pengungsian atau pemindahan penduduk dari daerah-daerah yang berbahaya (daerah rawan bencana/perang) ke daerah yang aman. Bisa disimpulkan bahwa keterkaitan antara konteks respon status dan evakuasi adalah hal terakhir yang dilakukan dari kedua fase sebelumnya yakni adanya pendataan jumlah penyintas dan pemulihan kebutuhan pokok, seperti: makanan, baju layak pakai, air bersih dan sebagainya selanjutnya evakuasi. Hal ini dilakukan guna menghindari ancaman bencana yang memungkinkan terjadi secara berulang. Meskipun evakuasi berada di langkah nomor 3, namun tindakan ini harus dilakukan dengan cepat dan tepat. Hasil pendataan jumlah penyintas tentu dapat langsung dilakukan persiapan evakuasi terkait: jumlah penyintas, armada yang digunakan, tim SAR maupun relawan, jarak aman antara daerah yang dievakuasi, dan lain sebagainya. Kerjasama dan koordinasi yang baik sangat dibutuhkan antara relawan dan penyintas. Sebisa mungkin relawan memahami pengelolaan manajemen bencana sebelum melakukan pertolongan agar hasil yang didapat lebih maksimal, tak terkecuali pada tahap kontinjensi sesuai dokumen rencana Kontinjensi.  

Pemulihan terhadap Bencana

Pemulihan Masyarakat Penyintas Masa Pascabencana

Penggunaan Komunikasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi

Menurut Soehatman (Soehatman, 2010:38), rehabilitasi adalah perbaikan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pasca bencana dengan sasaran utama normalisasi atau berjalannya semua aspek pemerintah dan kehidupan masyarakat pada wilayah pasca bencana secara wajar. Sementara itu, rekonstruksi merupakan program jangka menengah dan jangka panjang guna perbaikan fisik, sosial, dan ekonomi untuk mengembalikan kehidupan masyarakat pada kondisi yang sama atau lebih baik dari sebelumnya.

Masa rehabilitasi atau pascabencana, komunikasi juga penting untuk mengembalikan masyarakat penyintas bencana pada kondisi kehidupan normal. Melakukan konseling, pemberdayaan sosial ekonomi, dan pengembalian kehidupan sosial masyarakat adalah kegiatan yang amat membutuhkan pemahaman komunikasi yang baik. Pendekatan komunikasi yang tepat akan membuat upaya penyembuhan mental penyintas bencana berjalan lebih cepat.

 

Strategi dan model yang efektif akan mendukung pemberdayaan sosial ekonomi masyarakat pascabencana. Begitu juga dengan mengembalikan kehidupan sosial masyarakat menuntut sebuah ruang komunikasi yang sesuai dengan nilai, budaya, dan agama masyarakat. Cara terbaik untuk mengembalikan kondisi sosial masyarakat melalui interaksi sosial yang normal. Interaksi sosial ini, fungsi komunikasi memegang peranan penting. Rekonstruksi sosial dapat dilakukan dengan merekayasa komunikasi sosial dan lintas budaya yang setara dan egaliter di antara sesama masyarakat penyintas bencana.

Penggunaan Komunikasi untuk Informasi Status Bencana

Pada saat tanggap darurat, manajemen komunikasi yang dilakukan adalah komunikasi dari pemantau status bencana, contohnya pemantau gunung berapi, pemerintah menentukan darurat bencana COVID-19 sehingga ada koordinasi dan pembuatan kebijakan tertentu. Kemudian melakukan koordinasi antara pemerintah daerah kabupaten, provinsi dan pemerintah pusat Pemerintah menentukan kebijakan mengenai status bencana dan memberikan informasi mengenai status tersebut dan disebarkan melalui berbagai media massa, seperti: radio, televisi lokal dan nasional, komunikasi personal, kelompok, dengan menggunakan HT, HP, radio komunitas, serta media internet (media digital) yang lebih cepat menyebar ke seluruh warga masyarakat. Pada pelaksanaannya, guna mengatasi tanggap darurat, semua elemen penyiaran langsung bertindak sesuai amanat PP Nomor 50 Tahun 2005, bahwa semua lembaga penyiaran harus segera memberi informasi kepada masyarakat terkait bencana yang terjadi. Contohnya pada bencana COVID-19 sumber resmi pemerintah melalui Satuan Tugas (satgas) COVID-19 di samping sumber-sumber dari pemerintah daerah. Penggunaan media komunikasi yang dibarengi komunikasi yang baik akan memudahkan informasi cepat diterima oleh baik pemerintah daerah terkait dan masyarakat luas. Status bencana yang diinformasikan melalui komunikasi yang baik juga membuat koordinasi pascabencana berjalan dengan baik. Bukan hanya itu, komunikasi yang baik dan informasi yang tepat mengenai status bencana juga dapat membuat penyintas bencana setidaknya mengerti apa yang harus dilakukan karena adanya informasi yang tepat dan kredibel. Sebaliknya informasi yang membingungkan akan memperlambat proses penanganan bencana, sebagai contoh kasus covid-19 kurang adanya informasi yang jelas membuat masyarakat cemas dan kurang dapat mengatasi bencana secara efektif.

Pemulihan Kesehatan dan Mental

Saat bencana terjadi banyak penyintas berjatuhan yang menyebabkan seseorang kehilangan keluarga atau kerabat. Selain itu, tak terhitung kerugian material terjadi yang menyebabkan suramnya masa depan mereka. Mereka yang masih hidup akan mengalami trauma psikis yang tak mudah mereka lupakan atau bahkan menghantui mereka sepanjang hidupnya. Untuk mengatasi keadaan itu mereka memerlukan adaptasi secara luar biasa. Upaya adaptasi inilah mereka mengalami gangguan mental yang dapat terjadi secara singkat sampai berkepanjangan yang bermanifestasi sebagai gangguan mental dari berbagai jenis diagnosis yang harus ditangani dengan segera.

Trauma healing sangatlah penting, melihat banyak dari penyintas bencana mengalami trauma dan ketakutan yang berlebih ketika mendengar suara-suara menyerupai gaung, getaran, atau semacamnya (Nugraha dalam Lestari, 2015). Trauma healing diutamakan pada anak-anak dan lansia, yang biasanya mengalami trauma paling kuat, baik stres maupun depresi.

Trauma healing seharusnya dilakukan secara teratur agar dapat membangun kembali mental para penyintas. Bagi anak-anak, misalnya dalam program trauma healing dapat dilakukan dengan membangun kelompok bermain yang diikutkan ke dalam kelas atau kegiatan-kegiatan bermain, belajar, membaca buku, kegiatan kesenian seperti tari, musik, dan melukis bahkan kegiatan beragama. Trauma healing yang diberikan kepada anak-anak bertujuan agar mereka mampu melupakan kejadian-kejadian yang terjadi pada masa lampau sehingga membuat mereka lebih siap bila bencana datang kembali.

Seperti contoh kegiatan trauma healing oleh Pelangi Olga pascagempa bumi dan tsunami di Lombok. Kegiatan itu berlangsung mulai 25 hingga 28 September 2018. Trauma healing dilakukan di lima titik lokasi, yaitu Dusun Senggigi; Kecamatan Batulayar dan SDN 2 Sandik; Pucangsari; Desa Sandik, Kecamatan Batulayar Lombok Barat. Lalu, kegiatan yang diagendakan di antaranya mengaji dan olahraga.

Pesan-pesan Singkat untuk Membangun Mental melalui Kampanye Digital

Pascabencana, para penyintas selamat sangat membutuhkan support. Apalagi bagi mereka yang sudah kehilangan tempat tinggal dan kehilangan anggota keluarganya. Untuk itu, gerakan-gerakan sederhana, seperti membuat pesan-pesan singkat melalui poster, selebaran atau pamflet dengan tujuan membuat para penyintas selamat merasa aman dan tenang. Hal itu juga menjadi cara untuk membangun mental para penyintas yang sedang terguncang pascabencana. Pesan-pesan seperti “Mari bangkit”, “Saya tidak sendirian”, dan “Patuhi protokol kesehatan.” Pesan tersebut disebarkan melalui poster dan selebaran digunakan untuk menguatkan mental publik bahwa mereka baik-baik saja, tidak sakit mental, dan tidak ragu untuk meminta pertolongan. Salah satu pesan singkat untuk membangun mental, yaitu “Lombok  Bangkit” saat dilanda gempa bumi dan Tsunami Agustus 2018 lalu.

Kampanye untuk Penguatan Mental Publik

Kampanye ini diadakan guna penanggulangan pascabencana dengan basis komunitas. Mengapa komunitas? Karena saat di pengungsian atau pasca terjadinya bencana, diperlukan banyak tenaga, baik sebagai SAR atau relawan yang membantu proses penguatan mental publik, seperti: dokter, psikiater, penghibur (motivator), dan lain sebagianya. Hal ini perlu, mengingat banyak dari penyintas yang tak hanya kehilangan harta benda, namun juga sanak saudara mereka. Diperlukan proses tanggap agar penyintas tak menyalahkan diri sendiri dan memperburuk kondisi mentalnya pascabencana bagi mereka yang tidak kehilangan apa pun, namun runtuh kepercayaan dirinya dan merasa trauma atas kejadian yang dialaminya. Sebagai contoh, penyintas gempa bumi di Yogyakarta tahun 2006 yang kehilangan harta benda dan anggota keluarganya memiliki Trauma yang mempengaruhi pola pikir serta tindakan di dalam masyarakat. Penyintas menjadi penyendiri, bahkan sampai mengalami gangguan jiwa (Lestari, 2007).

 

Membuka Akses Kepada Pemerintah

Sebagai pemimpin dan pemegang kekuasaan tertinggi, pemerintah tentu memiliki andil yang cukup penting dalam seluruh kejadian atau peristiwa yang terjadi di dalam maupun luar negeri, tak terkecuali bencana. Pemerintah harus siap siaga dan mengerahkan seluruh lini pertahanan agar proses evakuasi pra maupun pascabencana dapat berjalan maksimal. Menurunnya jumlah penyintas dan meningkatnya keberhasilan evakuasi merupakan tujuan utama pemerintah untuk menanggulangi bencana. Selanjutnya, bagaimana pemerintah menjalin komunikasi yang baik kepada masyarakatnya (penyintas bencana). Hal ini bukan merupakan kewajiban, namun sifat kemanusiaan berdasarkan rasa empati.

Gunakan Media Digital untuk Penyebaran Informasi mengenai Bencana yang Terpercaya

Esensi Literasi Digital dalam Hoax Disaster

Berbicara risiko bencana, setiap manusia mempunyai risiko terhadap kemungkinan terjadinya bencana. Hal ini menyebabkan bahwa penanganan bencana dilakukan oleh semua pihak (everybody’s business). Hal ini perlu dilakukan share responsibility dalam peningkatan kesiapsiagaan di semua kalangan baik individu maupun kelompok. Berbagai permasalahan muncul akibat kebencanaan yang berdampak pada sektor sosial maupun ekonomi pada negara dan masyarakat. Guna mengatasi hal tersebut perlu upaya penanggulangan bencana supaya dapat terorganisir dan efektif.

Menurut Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, menyatakan potensi penyebab bencana di wilayah Indonesia dapat dikategorikan dalam tiga jenis bencana, yaitu (a) bencana alam, (b) bencana non alam, dan (c) bencana sosial. Bencana alam diakibatkan oleh peristiwa dari alam seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, dan lain-lain. Adapun bencana non alam diakibatkan oleh peristiwa non alam, seperti kebakaran hutan, kecelakaan transportasi, kegagalan teknologi, wabah penyakit (pandemi) dan sebagainya serta bencana sosial berupa kerusuhan sosial maupun konflik sosial dalam masyarakat.

Penanggulangan bencana harus didukung dengan berbagai pendekatan baik soft power maupun hard power yang bertujuan untuk mengurangi risiko bencana. Pendekatan soft power disini bertujuan untuk menyiapkan kesiapsiagaan bencana melalui sosialisasi serta penyampaian informasi kebencanaan. Sedangkan hard power merupakan upaya dalam menghadapi bencana dengan membangun sarana dan prasarana secara fisik termasuk sarana media komunikasi digital. Berdasarkan dua pendekatan tersebut media komunikasi digital bencana sangat dibutuhkan.

Kehadiran media digital terutama media sosial kini, menjadikan Kawan Tular Nalar dalam memanfaatkan penyebaran informasi yang terpercaya guna membantu lingkungan sekitar, masyarakat, relawan bahkan instansi dalam melakukan kesiapsiagaan penanganan bencana. Seperti yang bisa dilakukan adalah pemberian informasi secara jelas tentang jumlah penyintas, persediaan logistik yang dibutuhkan, dan kontak telepon yang dapat dihubungi. Namun fenomena yang terjadi bahwa penyampaian informasi yang didapatkan dari media sosial masih cenderung tidak kredibel, sehingga sumber yang tidak valid maupun berita yang terunggah tidak terbukti kebenarannya. Alhasil hal tersebut tidak mempercepat proses recovery, namun media sosial malah membuat kepanikan dan kecemasan yang berlebihan di masyarakat. Kasus gempa di Palu, banyaknya berita hoax disaster yang menyatakan bahwa akan ada gempa susulan berpotensi tsunami yang melanda daerah-daerah tertentu. Beberapa berita hoax tersebar dalam media sosial seperti WhatsApp, Facebook, dan sebagainya. Isi berita hoax ini berupa teks/tulisan, foto maupun video yang tidak sesuai dengan kebenarannya.

 

Berikut beberapa studi kasus tentang hoax disaster:

1. Kabar Wali Kota Palu Meninggal Akibat Gempa Hoax!

Sebuah pesan singkat melalui WhatsApp  tersebar berita kabar duka atas meninggalnya Wali Kota Palu, Hidayat. Setelah diselidiki, ternyata kabar itu tersebut bohong. “Innalillahi wa innailaihi rojiun walikota palu meningggal dalam musibah tsunami di Palu”. Faktanya Walikota Palu tidak meninggal. Bahkan Beliau dalam keadaan sehat.

Sumber: idntimes.com

2. Gempa Raksasa Susulan 9 SR di Banten
Setelah gempa besar dengan kekuatan 6,9 SR di Banten beredar berita hoax di media sosial terkait gempa susulan yang berisi akan ada gempa yang lebih besar adanya potensi jarak antar gempa yang semakin pendek dan Gunung Tangkuban Parahu yang tiba-tiba aktif.

Lalu patahan Sunda sedang dalam keadaan kritis. Alhasil berita ini langsung disangkal oleh Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, yang menyatakan bahwa belum adanya alat pendeteksi gempa bumi, jadi semua berita dipastikan hoax.

Sumber: suara.com

3. Pulau Ambon dan Seram Tenggelam
Hoax terakhir yang menghebohkan adalah tenggelamnya Pulau Ambon dan Seram. Berita broadcast menyatakan bahwa adanya patahan besar yang bisa menyebabkan Pulau Ambon dan Seram tenggelam. Selanjutnya dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) oleh ahli tsunami membantah gambar dan data yang beredar karena  sumber yang tidak valid.

Sumber: kominfo.go.id

 

Secara garis besar, konten-konten dalam hoax dapat dikategorikan menjadi tiga aspek yaitu misinformasi, disinformasi dan malinformasi. Apa perbedaannya? Berikut sekilas pembahasannya: 

1. Misinformasi adalah informasi salah yang disebarkan oleh orang yang mempercayainya sebagai hal yang benar. Misalnya pernyataan, air putih dapat menyembuhkan COVID-19 dan cahaya mampu membunuh virus Corona).

2. Disinformasi adalah informasi salah yang disebarkan oleh orang yang tahu bahwa informasi itu salah, jadi ada kesengajaan pada pelaku penyebar informasi. Misalnya, Cannabis dapat melawan virus Corona.

3. Malinformasi adalah informasi yang berdasarkan realitas tapi digunakan untuk merugikan orang, organisasi atau negara lain. Seperti, data pribadi (nama, alamat rumah pasien COVID-19 disebarluaskan di media sosial).

Literasi Digital Bencana, Lawan Hoax Disaster

Berita hoax menjadi sasaran untuk masyarakat yang tidak mengerti tentang literasi digital atau literasi media. Sonia Livingstone dalam Suwarto (2018) menyatakan literasi media merupakan kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan pesan dalam berbagai bentuk medium. Melalui kurikulum Tular Nalar ini diharapkan masyarakat dapat merefleksikan nilai-nilai pribadinya, mengeksplorasi berbagai teknologi informasi, mendorong kemampuan berpikir kritis, mencari solusi dan kreatif. Masyarakat digital kini dituntut untuk mampu berpikir secara kritis untuk melakukan penilaian atas informasi yang didapatkan serta mampu untuk menganalisis apakah informasi yang diperoleh sudah kredibel, dapat dipercaya, valid, dan layak untuk disebarluaskan?

Adiputra (2008) menyatakan bahwa literasi media memiliki arti penting dalam kehidupan kontemporer. 

1. Kehadiran media yang semakin intens dalam kehidupan masa kini, baik untuk kalangan bawah, menengah atau atas.

2. Masyarakat kini semakin membutuhkan informasi, seiring dengan kemajuan zaman, informasi tersebut secara cepat didapatkan dari media elektronik maupun media cetak.

3. Proses perolehan informasi bagi setiap orang memerlukan kecakapan atau kemampuan yang spesifik. Informasi bisa dikatakan bahan mentah untuk pengetahuan dan pemahaman. Untuk memproses informasi menjadi pengetahuan, diperlukan alat atau kecakapan. Kecakapan inilah yang disebut oleh literasi media. 

 

Dilihat dari aspek tujuan literasi media, ada dua pandangan utama yang berbeda dan memiliki pengaruh yang sama kuatnya di kalangan praktisi pendidikan media dan para penggiat literasi media (Aufderheide, 1992 dari Juliswara, 2017) yaitu: (a) Pandangan pertama yang disebut kelompok “proteksioni” yaitu pendidikan media atau literasi media dimaksudkan untuk melindungi warga masyarakat sebagai konsumen media dari dampak negatif media massa. (b) Pandangan kedua yang disebut “preparasionis” bahwa literasi media adalah upaya mempersiapkan warga masyarakat untuk hidup di dunia yang sesak-media agar mampu menjadi konsumen media yang kritis. Artinya, dalam pandangan kelompok “preparasionis”, warga masyarakat secara umum perlu dibekali oleh kompetensi melek media untuk bisa mengambil manfaat dari kehadiran media massa.

Literasi digital dianggap sebagai perpanjangan dari literasi media yang berfokus pada konteks media dalam dunia digital. Rullie Nasrullah, dkk dalam buku gerakan literasi nasional (2017) menjelaskan bahwa menjadi literasi digital berarti dapat memproses berbagai informasi, dapat memahami pesan dan berkomunikasi efektif dengan orang lain dalam berbagai bentuk. Literasi digital akan menciptakan tatanan masyarakat dengan pola pikir dan pandangan yang kritis dan kreatif. Mereka tidak akan mudah termakan oleh isu yang bersifat provokatif, menjadi korban informasi hoaks, bahkan korban penipuan yang berbasis digital. Dengan demikian, kehidupan sosial dan budaya masyarakat akan cenderung aman dan kondusif. Apalagi berbicara tentang bencana yang serba tidak pasti, masyarakat dituntut untuk lebih bijaksana dalam menerima dan menyebarkan informasi yang valid melalui media sosialnya. Oleh karena itu, diperlukan kemampuan literasi digital yang memadai dalam kesiapsiagaan penanganan bencana. 

Aplikasi Chat Anti-Hoax, Cek Fakta Mafindo

Berikut contoh hasil paparan Cek Fakta yang ada di cekfakta.com tentang Pandemi Telah Berakhir dan COVID-19 Adalah Flu Biasa. Hal ini merupakan contoh berita yang salah [MISLEADING CONTENT]

[SALAH] Pandemi Telah Berakhir dan COVID-19 Adalah Flu Biasa

Berita yang disebarluaskan = Salah

Kumpulan dokter ahli, ilmuwan dan pengacara di Eropa 10 Oktober 2020 mengeluarkan statement perihal COVID 19, bahwa hasil penyelidikan mereka selama ini, COVID-19 adalah penuh kebohongan, rekayasa dan membuat orang punya rasa takut kehilangan pekerjaan, usaha dan dukungan keuangan ini adalah karya setan, hasil penyelidikan mereka selama ini COVID-19 tdk seperti yg diberitakan hangat di media saat ini, mereka akan tuntut dan investigasi orang yg bekerja sama membuat kekacauan dan situasi ekonomi yg buruk saat ini dan minta tdk ada lagi istilah new normal. Karena COVID-19 tdk memiliki efek yg berbahaya seperti diberitakan selama ini,,mereka minta pemerintah harus mengembalikan keadaan seperti keadaan semula, tidak ada lagi istilah new normal dan penggunaan masker, jaga jarak dan hal lain yg berhub dengan situasi COVID-19 saat ini,,ini statement dan Videonya,,

 

Watch Censored WORLD DOCTORS ALLIANCE Announce Lawsuit Against COVID-19 Global LockdownWatch Censored WORLD DOCTORS ALLIANCE Announce Lawsuit Against COVID-19 Global Lockdown Original Open Link https://www.youtube.com/watch?v=DZitDEI7EgM A meeting hosted by Heiko Schöning to introduce the World Doctors Alliance (WDA) in Berlin, Germany on 10th October 2020. Speakers in order of appearance are: HEIKO SCHONING, M.D. Doctor an ”Corona tidak bahaya.”

Hasil Cek Fakta

Beredar melalui aplikasi perpesanan Whatsapp, sebuah tautan Youtube dengan keterangan bahwa perkumpulan ahli di Eropa memberikan pernyataan bahwa COVID-19 tidak memiliki efek yang berbahaya. Dalam  narasinya tertulis, berdasarkan penyelidikan para ahli COVID-19 kebohongan, rekayasa dan membuat orang punya rasa takut.

Pada 10 Oktober, Heiko Schoning, seorang dokter Jerman dan kepala kelompok yang dikenal dengan akronim Jerman ACU2020 mengumumkan pembentukan organisasi bernama World Doctors Alliance untuk menantang kebenaran pandemi COVID-19. Dalam situs web aliansi tersebut mengklaim bahwa pandemi telah berakhir tepatnya sejak Juni 2020.

Pengumuman pembentukan grup tersebut sudah diunggah ke Youtube, namun dihapus oleh Youtube karena melanggar persyaratan layanan. Dalam potongan video yang telah tersebar di media sosial, seorang dokter umum bernama Elke De Klerk menyebut bahwa mereka tidak ada pandemi dan COVID-19 merupakan virus flu biasa.

Faktanya, para ahli Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan berbagai ilmuwan lain mengatakan tidak ada bukti ilmiah virus Corona (COVID-19) kini kehilangan potensinya atau tidak mematikan lagi seperti awal penyebarannya.

Ahli Epidemiologi WHO, Maria Van Kerkhove, serta beberapa ahli virus dan penyakit menular, mengatakan “Tidak ada data menunjukkan virus corona berubah secara signifikan, baik dalam bentuk transmisi atau dalam tingkat keparahan penyakit seperti yang dikatakannya,” kata mereka, seperti dilansir Reuters.

“Dalam hal penularan, tidak berubah, dalam hal keparahan, juga tidak ada berubah,” jelas Van Kerkhove kepada wartawan.

Mengenai pernyataan De Klerk yang mengatakan COVID-19 merupakan virus flu biasa, WHO menyatakan COVID-19 menyebabkan penyakit yang lebih parah daripada influenza musiman. Banyak orang di seluruh dunia telah membangun kekebalan terhadap jenis flu musiman, COVID-19 adalah virus baru yang tidak memiliki kekebalan. Artinya, semakin banyak orang yang rentan terhadap infeksi, dan beberapa akan menderita penyakit parah. Secara global, sekitar 3,4% dari kasus COVID-19 yang dilaporkan telah meninggal. Sebagai perbandingan, flu musiman umumnya membunuh jauh lebih sedikit dari 1% orang yang terinfeksi.

Sehingga klaim mengenai pernyataan-pernyataan ahli Eropa mengenai COVID yang tidak berbahaya merupakan hoaks dengan kategori konten yang menyesatkan.

Kesimpulan Cek Fakta

Hasil periksa fakta Aisyah Adilah (Anggota Komisariat MAFINDO Institut Ilmu Sosial Ilmu Politik Jakarta). Informasi tersebut menyesatkan. Faktanya, berdasar dari data WHO klaim yang menyebut pandemi telah berakhir pada Juni 2020 adalah salah. Para ahli Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan berbagai ilmuwan lain mengatakan tidak ada bukti ilmiah virus Corona (COVID-19) kini kehilangan potensinya atau tidak mematikan lagi seperti awal penyebarannya.

Rujukan Cek Fakta

PENUTUP

Internet dan siaga bencana merupakan salah satu dari 8 kompetensi kurikulum Tular Nalar yang harus dipahami oleh masyarakat. Kurikulum tersebut menggambarkan pentingnya informasi yang harus diketahui dan tindakan yang harus dilakukan pada saat situasi prabencana, saat darurat, dan pascabencana. Terutama menghindari hoax kebencanaan yang mengacaukan ekosistem informasi. Masyarakat harus tahu cara mengidentifikasi hoax disaster, mencari informasi yang valid, dan mengerti apa yang harus dilakukan untuk mengatasi hoax tersebut.

Kawan Tular Nalar diharapkan mampu berpikir kritis dalam menyikapi berbagai isu sosial termasuk kebencanaan di era media digital. Media literasi melalui kurikulum khususnya tentang mitigasi dan bencana bermanfaat dalam pengurangan risiko bencana. Kesadaran akan pengurangan risiko bencana harus dibiasakan sejak dini. Kawan Tular Nalar diharapkan mampu menguasai berbagai informasi tentang kebencanaan baik pra bencana, saat bencana maupun pascabencana. Penguasaan berbagai informasi di era digital perlu disesuaikan dengan tema Kurikulum Tular Nalar yang terdiri dari 3 level yaitu: TAHU, TANGGAP, dan TANGGUH yang berbasis pada 8 kompetensi literasi digital yaitu (1) Mengakses informasi (2) Mengelola informasi (3) Mendesain pesan (4) Memproses informasi (5) Berbagi pesan (6) Membangun ketangguhan diri (7) Perlindungan data (8) Kolaborasi. 

Masyarakat yang sudah menguasai kurikulum ini menjadi kawan untuk menularkan nalar yang baik dan bijak dalam bermedia digital, tangguh menghadapi berbagai bencana untuk mencapai kehidupan masyarakat yang damai dan sejahtera. “Kita TANGGUH, SIAP SELAMAT dan MENYELAMATKAN. Mari kita budayakan produksi dan distribusi pesan-pesan positif untuk mengurangi hoax kebencanaan secara CEPAT, TEPAT, AKURAT dan MEMBANGUN NEGERI DENGAN BERSINERGI”.

DAFTAR PUSTAKA

Adiputra, W. M. (2008). Literasi Media dan Interpretasi atas Bencana. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Volume 11 Nomor 3.

Adiyoso, W. (2018). Manajemen Bencana (Pengantar dan Isu-Isu Strategis). Jakarta: Bumi Aksara.

Barrantes. (2009). Module Information and Communication in Emergencies and Disaster: Manual for Disaster Response Team. Washington DC: PAN American Health Organization.

Haddow, G. D. (2009). Disaster Communications in a Changing Media World. London: Elsevier. 

HH, S. B. (2012). Komunikasi Bencana: Aspek Sistem (Koordinasi, Informasi dan Kerjasama). 

Imadudin, M. 2018. Pulihkan Korban Gempa, Tim Pelangi Olga Gelar Trauma Healing untuk Warga Lombok. Retrieved fromhttps://www.timesindonesia.co.id/read/184697/20181003/104850/pulihkan-korbangempa-tim-pelangi-olga-gelar-trauma-healing-untukwarga-lombok/.

Judhita, C. (2018). Interaksi Komunikasi Hoax di Media Sosial serta Antisipasinya Hoax Communication Interactivity in Social Media and Anticipation. Volume 3, Nomor 1.

Juliswara, Vibriza. (2017). Mengembangkan Model Literasi Media yang Berkebhinnekaan dalam Menganalisis Informasi Berita Palsu (Hoax) di Media Sosial. Jurnal Pemikiran Sosiologi Volume 4 Nomor 2.

Kusumasari, B. (2014). Manajemen Bencana dan Kapabilitas Pemerintah Lokal. Yogyakarta: Gava Media. 

Lestari, P. (2018). Komunikasi Bencana (Aspek Penting Pengurangan Risiko Bencana). Yogyakarta: PT Kanisius. 

Lestari, P. (2019). Perspektif Komunikasi Bencana. Yogyakarta: PT Kanisius Yogyakarta.

Lestari, Sularso. (2020). International Journal Of Communication and Society: The COVID-19 Impact Crisis Communication Model Using Gendhing Jawa Local Wisdom. Volume 2 Nomor 1

Literasidigital.id. (2018). Yuk Tanggap dan Bijak Berbagi Informasi Bencana Alam Melalui Aplikasi Chat. Diperoleh 20 Maret 2019 dari http://literasidigital.id/books/yuk-tanggap-bijak-berbagiinformasi-bencana-alam-melalui-aplikasi-chat/.

Mafindo. (2019). Pemetaan Hoaks 2018: Dokumen Masyarakat Anti Fitnah Indonesia.

Marchell. 2018. Menpar Arief Pastikan Program Lombok Bangkit Berjalan, Pulihkan Wisata Lombok. Retrieved November 13, 2020, from http://www.spotnews.id/pesona/ hiburan/1148/

Soehatman, R. 2010. Pedoman Praktis Manajemen Bencana. Jakarta: Dian Rakyat. 

Yanti, M., & Yusnaini, Y. (2018). The Naration of Digital Literacy Movement in Indonesia. Volume 48, Nomor 2. Jurnal Komunikasi, Volume 1, Nomor 4.