Eko Ramaditya Adikara M.Si CH CHt
Dosen, Trainer, dan Penulis Tunanetra

Sebagai bagian dari masyarakat, penyandang disabilitas – disebut juga difabel atau orang berkebutuhan khusus, adalah orang-orang yang mempunyai keterbatasan fisik. Adanya batasan tersebut membuat mereka tak dapat melakukan kegiatan sehari-hari secara normal jika dibandingkan dengan orang pada umumnya. Hal tersebut tentu saja juga berpengaruh dalam dunia literasi. 

Internet Merangkul Sesama: Cara Ciptakan Lingkungan yang Kondusif dan Inklusif

Orang tunanetra contohnya, tak dapat membaca atau menulis dengan cara yang biasanya digunakan secara umum. Selain itu, dibutuhkan alat bantu khusus yang bersifat asistif untuk membantu penyandang disabilitas agar dapat mengakses sumber informasi dan media literasi.Pada dasarnya, ada dua jenis penyandang disabilitas yang terdampak langsung atas keterbatasan tersebut. Pertama, penyandang tunanetra karena tak dapat/atau kurang dapat memanfaatkan indera penglihatan untuk memperoleh informasi. Kedua, penyandang tunarungu yang tak dapat mendengar sehingga menemui hambatan menerima informasi dalam bentuk audio.

Pada pembahasan kali ini, kita fokus pada penyandang tunanetra, sebab disabilitas jenis ini yang paling parah terdampak akibat disfungsi indera penglihatan.

Mengenal Jenis Kebutaan

Menurut standar yang ditetapkan oleh WHO, ada dua jenis kebutaan –selanjutnya disebut ketunanetraan– yaitu totally blind dan low vision. Totally blind artinya tak dapat melihat sama sekali, di mana penyandang tunanetra sama sekali tak dapat memanfaatkan indera penglihatan untuk menangkap informasi visual.

Jenis kedua adalah low vision atau lemah penglihatan. Penyandang low vision masih dapat memanfaatkan indera penglihatan untuk menerima informasi visual, namun terbatas pada jarak pandang (visum) tertentu yang ukurannya di bawah standar visum yang telah ditetapkan. Low vision sendiri sangat beragam kondisinya. Ada yang masih dapat menangkap cahaya, ada pula yang dapat melihat secara utuh dalam jarak pandang yang cukup pendek (misalnya satu atau dua meter).

Pada kenyataannya, orang menduga bahwa “orang tunanetra” sama sekali tak dapat melihat. Namun, dua jenis ketunanetraan di atas memberi gambaran bahwa penyandang tunanetra sebenarnya jauh lebih banyak jumlahnya di masyarakat, namun tidak dikategorikan sebagai tunanetra sebab dianggap masih dapat melihat.

Mengenali jenis ketunanetraan sangat bermanfaat dalam proses penyediaan konten, informasi, serta bahan literasi. Mereka juga dapat memanfaatkan alat yang tepat untuk mengoptimalkan diri dalam mengikuti kegiatan literasi.

Alat Bantu Asistif

Tunanetra Menggunakan Alat Bantu Asistif

Tunanetra memanfaatkan sistem baca tulis Braille untuk dapat membaca dan menulis secara konvensional. Namun, seiring berkembangnya teknologi, digital tools menjadi alternatif yang ringkas dan efisien dalam proses menerima dan memberi informasi. Saat ini, tunanetra telah dapat memanfaatkan komputer, laptop, atau ponsel untuk mengakses informasi. Beragam konten yang ramah tunanetra (aksesibel) pun telah banyak tersedia.

Alat bantu asistif pertama adalah yang berbentuk perangkat keras (hardware). Ini bisa berupa kaca pembesar, scanner, dan video magnifier. Kaca pembesar dan video magnifier dapat dimanfaatkan untuk membesarkan objek atau tulisan, sehingga dapat dibaca oleh pengguna low vision. Scanner sendiri – baik yang konvensional maupun spesifik dirancang untuk tunanetra – dapat dimanfaatkan untuk mengubah/ atau memindai tulisan yang tercetak pada kertas menjadi format digital, yang nantinya dapat diakses aplikasi bantu tunanetra.

Alat bantu asistif berikutnya adalah perangkat lunak (software). Ada beberapa kategori yaitu pembaca layar (screen reader), pembesar layar (screen magnifier), dan alat bantu lainnya yang tidak termasuk kategori tersebut (misalnya aplikasi pembaca uang dll). Fungsi dari pembaca layar adalah mengubah teks atau tulisan digital (seperti yang muncul di komputer atau ponsel) menjadi keluaran suara. Output tersebut diterima oleh telinga, sehingga tunanetra dapat “membaca” menggunakan pendengaran. Adapun fungsi pembesar layar adalah membesarkan objek yang muncul di layar monitor, sehingga penyandang low vision yang masih dapat memanfaatkan indera penglihatan dapat mengakses informasi yang tertera dengan mudah.

Saat ini telah banyak penyedia alat bantu asistif baik berupa software maupun hardware. Namun, dua portal yang paling up-to-date dalam menyediakan tools tersebut adalah Freedom Scientific dan NV Access. Pengguna perangkat Android dapat menggunakan Android Accessibility Suite, dan pemakai IOS dapat memanfaatkan Voice Over. Keduanya adalah pembaca layar yang dapat digunakan secara gratis di perangkat genggam. 

Tunanetra Membutuhkan Lebih Banyak Konten yang Aksesibel

Konten Ramah Tunanetra

Tersedianya alat bantu asistif tak berarti penyandang tunanetra bebas mengakses informasi seperti orang kebanyakan. Diperlukan adanya konten yang aksesibel, artinya dapat dikenali dan diakses dengan baik oleh alat bantu asistif tersebut. Mengapa butuh konten aksesibel? Seorang tunanetra mengakses jejaring sosial Facebook. Ia dapat membaca isi status karena berbentuk tulisan. Namun, tidak demikian saat pembaca layar menemukan gambar. 

Pengguna tunanetra tak dapat mengidentifikasi apa yang terlihat pada gambar. Namun, sejak pertengahan 2015 Facebook berinisiatif untuk mengubah konten menjadi lebih aksesibel. Melalui tag khusus, saat ini tunanetra sudah dapat mengetahui atau mengidentifikasi foto atau gambar, karena pembaca layar dapat membaca keterangan yang dibubuhkan dalam tag. Menariknya, tag ini tak akan muncul secara visual, jadi tidak mengganggu kenyamanan pengguna non-tunanetra. Hal ini menunjukkan bahwa penyedia konten sudah dapat membuat konten yang ramah bagi tunanetra, tanpa merusak aspek visual konten tersebut. Dalam ranah media informasi, biasanya tunanetra memanfaatkan buku bicara (audio book), dan buku elektronik (eBook)

Buku bicara adalah bahan bacaan yang diubah ke bentuk audio, baik secara manual maupun digital. Jadi, buku atau bahan bacaan dibaca oleh satu atau lebih orang, kemudian direkam ke format audio sehingga dapat didengar oleh penyandang tunanetra. Buku elektronik adalah bacaan yang telah diubah ke format digital. Format ini dianggap aksesibel bagi tunanetra, sebab konten berupa tulisan dapat diakses oleh pembaca layar tanpa perlu dikonversi lagi.

Tunanetra, Hoax, dan Disinformasi

Tunanetra dapat mengakses informasi dan turut andil dalam dunia literasi dengan adanya alat bantu asistif ditambah konten yang aksesibel. Mereka dapat secara mandiri mencari, mengidentifikasi, dan memverifikasi sumber informasi tanpa khawatir melakukan kesalahan atau ditipu orang lain. Contoh sederhana, ketika tunanetra menemukan SMS berisi undian berhadiah jutaan, namun tautan (link) yang diberikan menyesatkan.

Sejauh ini, dengan kewaspadaan yang cukup, pengguna tunanetra sudah dapat mengidentifikasi hal semacam itu, sehingga tak terakses baik sengaja maupun tak disengaja. Selain itu, pengguna tunanetra juga dapat secara pro-aktif berkolaborasi dengan orang non-tunanetra untuk melakukan koreksi apabila terdapat informasi yang menyimpang seputar tunanetra. Contoh kasus adalah pembagian Al-Qur’an Braille secara gratis yang ternyata hoax.

Dengan adanya informasi ini, diharapkan dapat menjadi jembatan antara penyandang tunanetra dan orang non-tunanetra untuk berpartisipasi dan berperan aktif di dunia literasi, baik dalam kegiatan formal maupun informal. Maka, kesenjangan yang terjadi akibat kurangnya pengetahuan dan hambatan fisik dapat dikurangi, sehingga tercipta kolaborasi yang baik, aman, dan aktif. []